05.09.2018



Laporan Penyaluran KATGAMA Peduli Lombok Tahap Pertama (15 s/d 31 Agustus 2018)





Fakultas Teknik UGM (FT-UGM) dan Keluarga Alumni Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA) bertindak cepat dalam merespon serangkaian bencana gempa bumi yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat sejak akhir Juli 2018. Kotak donasi dibuka, dan dalam tempo beberapa hari, terkumpul dana mencapai ratusan juta rupiah. Tidak menunggu lama, tim relawan pun diturunkan sejak 15 Agustus 2018, dikomandani oleh Nurhadi, salah satu alumni FT-UGM yang sejak awal lantang mengajak sesama alumni untuk bergerak membantu korban bencana alam di Lombok.





Strategi yang digunakan oleh tim FT-UGM dan KATGAMA adalah dengan turun langsung ke lapangan, memperhatikan kondisi, dan memilih satu-dua dusun yang tepat untuk fokus didampingi dalam tanggap darurat dan pemulihan pascabencana. Koneksi yang baik dengan rekan di Mataram turut membantu tim dalam menentukan pilihan atas dusun yang akan digarap, yaitu Dusun Limbungan Utara, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, dan Dusun Banten Damai, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Parameter yang digunakan dalam pemilihan dusun adalah: besarnya kehancuran yang dialami, lokasi yang cenderung terpencil, dan belum ada bantuan yang tersalurkan di lokasi tersebut.


Fokus awal penyaluran donasi FT-UGM dan KATGAMA ini adalah pemberian bantuan logistik dan melakukan pendekatan dan pemberian semangat untuk membangkitkan kembali spiritual warga pascabencana, sebelum diajak untuk bersama-sama menjalankan program pemulihan di daerahnya masing-masing. Sehingga, selain pembagian beras sebagai makanan pokok penduduk setempat dan pembagian selimut dan terpal untuk membantu warga bertahan di tengah lokasi bencana yang hancur lebur, kegiatan yang dilakukan juga meliputi pengajian rutin selepas sholat maghrib dan subuh, pengajian anak-anak setiap sore menjelang maghrib, outbond untuk anak-anak dalam 3 hari sekali, makan malam relawan bersama warga untuk membangun kedekatan dan rasa saling percaya, dan pengobatan gratis (medis dan alternatif). Baru setelah beberapa hari kegiatan spiritual dilakukan secara intensif, relawan mengajak warga untuk melakukan kegiatan fisik, di antaranya dengan melakukan pembersihan puing-puing yang hancur karena bencana, membuat mushola sementara yang cukup layak untuk sholat berjamaah warga, membuat fasilitas MCK dan tempat wudlu, dan membuat hunian sementara dari puing-puing yang masih bisa dimanfaatkan.





Dalam lima belas hari penerjunan, relawan telah membantu 3,827 warga yang berasal dari Dusun Limbungan Utara (1,077 jiwa), Dusun Banten Damai (750 jiwa), dan Dusun Labuhan Pandan (2,000 jiwa). Sekitar 4,350 kg beras dibagikan untuk ketiga desa tersebut, beserta 1,500 lembar selimut, 50 terpal, dan sekitar 500 pasang sarung dan mukena.


Sebanyak 15 unit MCK semi permanen dibangun pada titik-titik darurat, yang bahkan diharapkan bisa digunakan hingga beberapa bulan ke depan. Beberapa bangunan yang hancur dibersihkan untuk bisa digunakan sebagai mushola darurat, dengan penambahan fasilitas wudlu yang cukup memadai.


Tim relawan juga bahu-membahu dengan warga setempat dalam membangun 10 hunian sementara (huntara) yang dibangun menggunakan sisa-sisa bangunan yang masih bisa dipakai. Bangunan huntara tersebut diharapkan bisa menjadi contoh bagi warga untuk bangkit dan bisa membuat huntara sendiri sepeninggal relawan nantinya.





Dengan kegiatan yang begitu padat dan efektif, berapa banyak relawan yang terjun ke lokasi? Tercatat ada 30 relawan KATGAMA, yang terdiri dari 4 koordinator alumni FT-UGM, dan 26 tenaga ahli yang terdiri dari 6 dokter, 4 terapis pengobatan alternatif, dan 16 ahli bangunan dan ahli masak. Kegiatan ini juga didukung 50 santri dan ulama dari Pondok Pesantren Pawening Qalbu (PPPQ) Karanganyar, yang turut membantu program-program FT-UGM dan KATGAMA hingga kini. Sehingga total relawan yang digerakkan untuk terjun di lapangan sebanyak 80 orang.


Sementara, tim KKN FT-UGM yang diterjunkan beberapa hari setelah relawan KATGAMA fokus pada implementasi hunian sementara pra tetap (huntrap) yang dirancang oleh beberapa teknisi di lingkup dekanat FT-UGM. Sebanyak 10 unit huntrap dibangun oleh tim awal ini, di mana 4 unit di antaranya dibiayai oleh hasil donasi FT-UGM dan KATGAMA sebesar Rp 60 juta (Rp 15 juta/unit).


Tim relawan tersebut terjun dan melakukan mobilisasi dengan dukungan 8 mobil (2 unit sumbangan dari ECC UGM, 6 unit dari PPPQ), satu unit ambulans, dan satu unit sepeda motor sewaan.





Selama lima belas hari penerjunan tim ke lokasi, relawan FT-UGM dan KATGAMA telah menyalurkan donasi sekitar Rp 200 juta, termasuk Rp 60 juta untuk 4 unit huntrap yang dibangun oleh tim KKN FT-UGM. Selanjutnya, FT-UGM dan KATGAMA menjalankan kampanye #PeduliLombok tahap kedua, yang diberi jargon Gedubrakk!! (Gerakan Dua Ratus Ribu Perak) yang menyasar alumni UGM dan seluruh pihak yang mau peduli dengan penanggulangan bencana gempa bumi di Lombok yang masih dirasakan akibatnya oleh sebagian besar masyarakat Lombok hingga kini. Jumlah donasi disarankan sebesar Rp 200 ribu saja, untuk bisa menggalang lebih banyak donatur dari kalangan alumni muda. Kampanye Gedubrakk!! telah dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Nizam, bersama dengan Ketua Umum KATGAMA, Ir. Agus Priyatno, pada 1 September 2018 dalam rangkaian pembukaan Career Days ke-24 ECC UGM.


Anda dapat turut berpartisipasi dan membantu warga Lombok dengan mengirimkan donasi ke nomor rekening KATGAMA atau ECC UGM yang tertera pada gambar di bawah ini. Silakan lakukan konfirmasi donasi melalui halaman www.katgama.org/konfirmasi-donasi atau klik tombol di kanan bawah halaman ini.